resume buku sejarah


Lutfiana Candra
SPI C / 53010180105/ Semester 3
Resensi buku ‘’KISAH YANG TAK TERUNGKAP :MAHASISWA DALAM PUSARAN REFORMASI 1998 – ROSIDI RIZKIANDI “
Buku Kisah yang Tak Terungkap: Mahasiswa dalam Pusaran Reformasi 1998 merupakan buku yang berawal dari skripsi dengan judul Pergerakan Mahasiswa Memperjuangkan Reformasi Indonesia 1997-1999 : Studi  Kasus Mahasiswa Universitas Indonesia. Buku ini akan membahas secara ilmiah mengenai peranan gerakan mahasiswa dalam peristiwa reformasi Indonesia 1998.
            Gerakan mahasiswa adalah sekelompok entitas dalam masyarakat yang bertujuan untuk mendorong atau menghambat suatu perubahan sosial dalam masyarakat[1] Gerakan sosial muncul karena adanya perbedaan nilai dalam dunia ide dengan kenyataan yang ada. Gerakan mahasiswa pada masa orde baru muncul disebabkan oleh nilai-nilai yang diusung pada kemunculan orde baru yaitu kembali konsisten memegang teguh konstitusi UUD 1945 dan Pancasila tidak dilaksanakn dengan baik serta terjadi penyimpangan di bidang hukum, ekonomi, pemerintahan, ketatanegaraan, dan politik.
Mahasiswa memiliki pengaruh dalam melumasi terjadinya perubahan corak dan konstelasi politik Indonesia. Penguasa  khawatir akan keberanian mahasiswa akan mengancam kedudukannya, sehingga pemimpin Negara melakukan tindakan untuk mematikan gerakan mahasiswa, contohnya penutupan  kampus, penangkapan mahasiswa, dan kebijakan NKK/BKK.[2]
Tahun 1967 melalui sidang MPRS tanggal 7 Maret 1967 MPR mengeluarkan Tap MPR No XXXIII/MPRS/1967 tentang pencabutan kekuasaan Presiden Soekarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden hingga dilaksanakannya pemilihan umum. Hal ini sekaligus menjadi tanda runtuhnya rezim orde lama dan munculnya rezim orde baru. Kelahiran ini disambut gegap gempita oleh seluruh kalangan rakyat Indonesia.
Setelah berdirinya rezim orde baru praktis belum ada gerakan mahasiswa dalam jumlah besar dan mengkhawatirkan stabilitas kekuasaan Soeharto. Mendekati akhir tahun 1973 protes-protes mahasiswa mulai mengemuka dengan kasus-kasus permasalahan bangsa yang lebih besar. Paruh kedua tahun 1973 terdapat protes dari kalangan islam terkait naskah undang-undang perkawinan, mengenai peraturan menikah untuk istri kedua.
Pada akhir 1973 secara perlahan mahasiswa mulai dibangkitkan kembali semangat gerakannya karena melihat berbagai penyelewengan yang dilakukan oleh pemerintah. Bertepatan dengan momentum sumpah pemuda Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia menyusun sebuah petisi yang disebut dengan Petisi 24 Oktober 1973 yang mendesak perubahan strategi pembangunan , pemberantasan korupsi dan penyalahgunaan yang lain, dan fungsi yang lebih baik dari lembaga perwakilan.
Pada awal tahun 1974 aksi-aksi gerakan mahasiswa semakin sering dilangsungkan di berbagai daerah. Poster-poster yang dibentangkan berisi sindiran terhadap perilaku para pejabat. Pada tanggal 10 Januari 1974, DM UI mengeluarkan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat ) yang isinya yaitu pembubaran fungsi aspri, penurunan harga-harga, dan pemberantasan korupsi. Rangkaian aksi demonstrasi yang terjadi di beberapa kota di Indonesia selama kurun waktu tahun 1973-1974 tidak terlepas dari peran DM UI, terutama ketuanya, Hariman Siregar. Hariman Siregar mengadakan sejumlah kunjungan ke beberapa kota untuk menyebarkan pikirannya dan mengajak mahasiswa dari kota-kota lain untuk bergabung dalam visinya yang tertuang dalam tritura baru.
Memasuki tahun 1977, suhu perpolitikan di Indonesia semakin memanas seiring  dengan akan dilangsungkannya pesta demokrasi. Akhir tahun 1976 kalangan intelektual dan mahasiswa digemparkan dengan isu gerakan sawito yang digagas oleh sawito kartowibowo dengan tujuan untuk menggulingkan kepemimpinan presiden Soeharto.
Menanggapi pemilu tahun 1977. DM IKIP Jakarta bertindak dengan melakukan pemantauan proses pemilu di daerah-daerah. Hasilnya yaitu adanya perlakuan kasar ,pemukulan, berbagai bentuk kecurangan dan intimidasi. Golkar sebagai partai pemerintah mengintimidasi warga dan lawan-lawan politik lainnya melalui ABRI. Salah satu sekretaris di NTB di pecat karena tidak aktif mmbantu mencabut poster PPP dan PDI.
Beberapa masalah yang ditemukan pada rezim orde baru yaitu Soeharto berusaha untuk mempertahankan kekuasaanya dengan menjadi presiden seumur hidup, merekayasa parlemen yang berisi pihak pendukungnya, dan indikasi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pada tanggal 28 oktober 1977, mahasiswa melakukan ‘Apel Mahasiswa Indonesia’ yang diikuti oleh 8000 mahasiswa. Aksi dilaksanakan dengan mengelilingi daerah luar kampus ITB. Aksi turun jalan ini adalah kali pertama setelah peristiwa malari 1974[3].
Mendekati masa sidang umum MPR 1978 DM ITB  mengeluarkan tiga tuntutan dan buku putih perjuangan mahasiswa 1978. Tuntutan pertama, mahasiswa menuntut fraksi-fraksi di MPR memajukan tokoh-tokoh nasional yang berprestasi baik dan berintegritas sebagai calon presiden. Kedua, mahasiswa meminta MPR agar melaksanakan tuntutan mahasisw yang dituangkan dalam Ikrar Mahasiswa Indonesia 28 Oktober 1977. Ketiga, meminta agar ABRI berada di atas semua golongan.
Buku putih berisi kritikan-kritikan tajam terhadap praktik penyelenggaran pemerintah. Hasilnya, sidang umum MPR tahun 1978 berjalan lancar dan kekuatan orde baru tetap dipertahankan.
Lahir surat keputusan pangkopkmtib NO. SKEP 02/KOPKAM/1978 mengenai pembekuan dewan mahasiswa di seluruh Indonesia. Gerakan mahasiswa era 80-an memilih menggunakan format gerakan intelektual sebagai salah satu jalan perjuangan yang utama, walaupun gerakan demonstrasi tidak hilang sama sekalii. Akhir tahun 1980 an, lahir dua komite rakyat di Bandung dan Jakarta. Kemunculan komite rakyat memiliki ciri khas lahir berdasarkan suatu isu tertentu. Ikatan di antara mereka adalah untuk mengadvoksi suatu kasus, cepat terbentuk atas dasar kepedulian tersebut dan cepat pula bubar ketika suatu kasus dianggap selesai di advokasi.
Aksi-aksi massa mulai bermunculan seiring dengan semakin banyaknya komite rakyat diberbagai kota dan daerah. Tahun 1989, aktivis dari Jakarta, Salatiga, Yogyakarta, Bandung, Solo, dan semarang melakukan aksi di Depdagri Jakarta dan depan Kodim Boyolali Jawa Tengah 24 Maret 1989 atas nama kelompok Solidritas Korban Pembangunan Kedung Ombo. April 1989, gabungan mahasiswa Jakarta dan Bandung mengadakan aksi massa di depan kantor walikota Bandung menyikapi kasus kacapiring. Aksi massa bukan berarti tidak mendapat perlawanan dari pemerintahan. Pasca- aksi massa di depan kantor walikota Bandung , sebanyak 33 mahasiswa di tahan oleh aparat keamanan. Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung sudah tidak terdengar lagi disebabkan oleh telah selesainya advokasi kasus tersebut, juga karena perpecahan di antara kalangan aktivis yang berasal dari dua kampus ternama, yaitu ITB dan Unpad.
Berbagai peristiwa terjadi di Indonesia yang menumbuhkan semangat mahasiswa semakin membara. Hingga tahun 1990 an gerakan mahasiswa terus melakukan berbagai aksi. Pada 25 Februari 1998 terdapat aksi keprihtinan ILUNI UI yang dianggap sebagai aksi pertama pencetus ide reformasi. Dikatakan pencetus bukan karena menjadi aksi pertama, namun karena aksi tersebut mendapat sorotan dari media nasional sehingga mampu memberikan pengaruh besar terhadap gerakan mahasiswa di seluruh Indonesia. Yang melakukan aksi pertama menginginkan reformasi adalah UGM namun tidak mendapat sorotan dari media massa.
            Pada tanggal 5 Maret 1998 Senat Mahasiswa UI menyatakan menolak Laporan pertanggung Jawaban Soeharto di depan Sidanng Umum MPR. Namun 11 Maret 1998 Soeharto kembali terpilih menjadi presiden dan keluarga besar UI melakukan proses duka.
Bertepatan hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1998 Keluarga Besar UI mengadakan aksi demostrasi yang dihadiri oleh kurang lebih 8000 orang dari berbagai daerah dan berkumpul di kampus Jabodetabek. 12 Mei 1998 terjadi aksi penembakan yang mengakibatkan tewasnya 4 mahasiswa Trisakti [4]karena tembakan peluru tajam oleh aparat keamanan di kampus. Dan pada puncaknya yaitu para mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR RI pada 17-23 Mei 1998 yang mendesak DPR/MPR RI untuk mengadakan sidang Istimewa MPR untuk menurunkan Soeharto. Aksi tersebut dipimpin oleh Henry Basel dari SM IKIP Jakarta dan Heru Cokro dari BPM UI. Akhirnya pada 21 Mei 1998 Soeharto mundur sebagai Presiden RI dan terpilihnya BJ Habibie sebagai Presiden RI.
Gerakan mahasiswa terpecah menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan ideologi yang berbeda-beda namun mempunyai satu tujuan yaitu menggulingkan Soeharto dan menupas rezim Orde Baru. Tetapi mereka tidak siap dan terjadi kebingungan dengan Indonesia Pasca Soeharto.
Gerakan mahasiswa reformasi tahun 1998 memiliki pola yang berbeda dengan gerakan mahasiswa tahu 1966-1978. Pada gerakan mahasiswa tahun 1966-1978 memiliki pemimpin tunggal, terdapat universitas yang memimpin gerakan dan terorganisir dengan baik, berbeda dengan gerakan mahasiswa reformasi tahun 1998 yang tidak mempunyai pemimpin tunggal yang memimpin gerakan tersebut.
Terpilihnya BJ Habibie sebagai presiden RI menuai pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa BJ Habibie juga termasuk dalam rezim orde baru maka harus turun juga, ada yang menganggap bahwa terpilihnya BJ Habibie sebagai presiden tidak sah karena tidak melalui pemilihan umum, dan juga ada yang menganggap terpilihnya BJ Habibie menjadi presiden telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada yaitu dalam pasal 8 UUD 1945 dan diperkuat dengan Ketetapan MPR No. VII/MPR/1973, Pasal 2 ayat 1.
28 Mei 1998 SMUI dan FKSMJ kembali mendatangi gedung DPR/MPR RI menuntut segera dilakukannya Sidang Istimewa MPR dan Penyelenggaraan Pemilihan Umum secepatnya. Tanggal 12 November 1998,mahasiswa kembali turun ke jalan dan berhasil mendekati gedung DPR/MPR. Sore hari mahasiswa yang berhasil menduduki gedung DPR/MPR terlibat bentrok dengan aparat keamanan da bentrokan terjadi di 3 titik yaitu depan Manggala Wana Bhakti, Jembatan Semanggi, dan depan Polda Metro Jaya.
Tanggal 13 November 1998, hari terakhir sidang mahasiswa berusaha memaksimalkan gerakannya untuk menggagalkan Sidang Istimewa MPR. Bentorkan pun kembali terjadi. Akibatnya 4 orang mahasiswa tewas setelah terjadi bentrokan di depan kampus Atma Jaya. Diduga arah tembakan berasal dari tentra Angkatan Darat. Peristiwa tersebut dikenang sebagai peristiwa Semanggi 1. [5]
Di pihak lain, bentrokan antara warga dengan PAM Swakarsa terjadi karena PAM swakarsa melakukan provokasi bersikap overating menakut-nakuti masyarakat karena sebagaian besar mereka membawa senjata tajam dan pentungan-pentungan. Akhirnya mereka di bunuh oleh masyarakat setempat di tol Cawang sebanyak 3 orang dan satu orang lagi dibunuh di dekat Hotel Le Meridien.
Waktu satu tahun berlalu peristiwa yang hampir sama kembali terjadi yaitu mahasiswa kembali mengadakan demonstrasi untuk menolak pengesahan RUU PKB (Rancangan Undang-Undang Pengendalian Keadaan Bahaya). Menurut mahasiswa dan aktivis LSM berpendapat bahwa materi RUU PKB ingin memberikan pembenaran kepada pemerintah melakukan kekerasan sehingga menunjuk TNI bisa kembali menguasai politik nasional. Hal tersebut dinilai bertentangan dengan semangat reformasi dan demokrasi.
Runtuhnya Orde Baru juga memanandai perubahan bentuk Organisasi  mahasiswa yang lebih independen dan bebas dari intervensi pemerintah melalui rektorat. Lembaga baru yang menggantikan SM UI disebut dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia. Bachtiar Firdaus, terpilih menjadi Ketua BEM UI pertama pada Juni 1999.
23 September 1999, mahasiwa melakukan aksi turun ke jalan dengan tujuan masuk ke gedung DPR/MPR agar pengesahan RUU PKB dibatalkan. 24 Septembr 1999, aksi demo tersebut memakan korban jiiwa yaitu 4 orang tewas. Dua orang meninggal karena luka tembak di kepala, satu orang meninggal akibat terkena benda tumpul dan satu orang meninggal yang merupakan anggota Brimob Polda Metro Jaya.
25 September 1999, ratusan mahasiswa UI mendatangi prosesi jenazah Yap Yun Hap di Balai Mahasiswa UI Salemba. Yap Yun Hap merupakan salah satu korban dari aksi demo 24 September 1999. Pendapat dari ahli forensic RSCM dan dosen FK UI, Mun’im Indries mengatakan bahwa korban meninggal dikarenakan terkena peluru tajam yang peluru terbut ukurang dan jenisnya sama dengan Tragedi Trisaki. Peristiwa terbunuhnya Yap Yun Hap dikenang sebagai peristiwa Semanggi 2.
7 Juni 1999 Indonesia melaksanakan Pemilihan Umum pertama di era baru dan menjadi hari yang bersejarah bagi Indonesi. PDIP mendapat suara terbanyak dalam Pemilu pertama di era reformasi yaitu 33,74% suara dengan 153 kursi. Tanggal 14 Oktober 1999, di hadapan Sidang Umum MPR, Presiden ke 3 BJ Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawabannya selama memimpin Indonesia. 19 Oktober 1999,diadakan voting dalam Sidang Umum MPR untuk menentuka apakah pertanggungjawaban BJ Habibie di terima atau tidak. Hasil dari voting tersebut yaitu menolak pertanggungjawaban BJ habibie dengan persentase 51,45% suara.
            20 Oktober 1999, diadakan Pemilihan Presiden di hadapan Sidang Umum MPR. Terdapat dua kandidat nama yang mencalonkan menjadi presiden yaitu Megawati Soekarno Putri dan Abdurrahman Wahid. Akhirnya Abdurrahman Wahid keluar sebagai pemenang dan menjadi presiden RI ke 4.




[1]Rizkiandi Rosidi. Jakarta. 2016. Kisah yang Tak Terungkap: Mahasiswa dalam Pusaran Reformasi 1998.  UI PRESS. Hlm 6
[2] NKK/BKK lahir sebagai suatu bentuk usaha pemerintah dalam mengekang aksi mahasiswa yang dinilai terlalu
mencampuri urusan politik. Menurut Daoed Joesoef, mahasiswa harusnya belajar di kampus, mengembangkan
dirinya di dalam kampus, tidak mencampuri urusan politik. Mahasiswa boleh mengenal politik hanya sebatas
dalam teori dan pengertian saja, bukan aksi dan prakteknya. Konsep NKK/BKK jelas bertujuan membunuh aktivitas politik kemahasiswaan. Hal ini semakin nyata dengan adanya pelarangan dihidupkannya kembali Dewan Mahasiswa. Semenjak itu pula lingkup kegiatan organisasi kemahasiswaan hanya sebatas meliputi bidang
kesejahteraan mahasiswa, bidang minat mahasiswa (seperti olahraga dan kesenian), serta bidang pengembangan pemikiran mahasiswa. ( Zayinatul Mustafidah. Gerakan Mahasiswa dan Kebijakan NKK/BKK 1978-1983. Vol. 4. No. 1 Maret 2016. Avatara, e- Journal Pendidikan Sejarah. hlm 102-106)
[3] Peristiwa Malari 1974 tepat pada 15 Januari 1974, ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta turun ke jalan untuk mengkritik kebijakan ekonomi Pemerintahan Soeharto yang dianggap terlalu berpihak kepada investasi asing. Aksi yang dikenal sebagai Malapetaka 15 Januari 1974 ini dilakukan bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka untuk bertemu Presiden Soeharto.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Peristiwa Malari 1974, Protes Modal Asing atau Dampak Perpecahan Militer?", https://nasional.kompas.com/read/2019/01/15/16362931/peristiwa-malari-1974-protes-modal-asing-atau-dampak-perpecahan-militer?page=all.
Penulis : Aswab Nanda Pratama
Editor : Bayu Galih
[4] 4 Mahasiswa Trisakti yang menjadi korban Tragedi Trisakti : Elang Mulia Lesmana mahasiswa Arsitektur, Hendriawan Sie dari Fakultas Ekonomi, Hafidhin Royan dari Teknik Sipil, dan Hery Hartanto dari Teknologi Industri. (Rizkiandi Rosidi. Jakarta. 2016. Kisah yang Tak Terungkap: Mahasiswa dalam Pusaran Reformasi 1998.  UI PRESS.  hlm 311)
[5] 4 Mahasiswa yang menjadi korban Peristiwa Semanggi 1 : Tedi Mardani (Fakultas Teknik Mesin ITI), Benardus Wawan ( Fakultas Ekonomi Atma Jaya), Sigit Prasetyo (YAI), Yanto (Universitas Jayabaya). (Rizkiandi Rosidi. Jakarta. 2016. Kisah yang Tak Terungkap: Mahasiswa dalam Pusaran Reformasi 1998.  UI PRESS. hlm 375)

Komentar

Postingan Populer