Islam Minoritas
Islamphobia
di Australia
Oleh
:
Septiana
Nuradilah
Arif
Dili Nurhakim
Lutfiana
Candra[1]
Australia menjadi salah satu negara
yang tidak luput dari pengaruh meluasnya gerakan Islam di Eropa. Menariknya keberadaan
komunitas muslim di Australia sangat kecil. Oleh karena jumlah tersebut
terdapat sebagian akademisis yang mengatakan bahwa islamphobia yang berkembang
di Australia dengan adanya muncul tidak didahului pengalaman pribadi negatif,
persaingan di pasar kerja, atau kesan buruk ketika berinteraksi di ruang publik
dengan komunitas muslim.
Datangnya Islam di Australia
diyakini dibawa oleh pelaut Makassar pemburu tripang pada tahun 1750,kemudian
terjalin hubungan dagang dan perkawinan campuran. Fase berikutnya, pemerintah
Australia mendatangkan pengendara unta dari Afghanistan, yang awalnya dipakai
untuk mengatasi keadaanalam yang sangat sulit. Pada perkembangan berikutnya,
mereka diberdayakan untuk membangun jalur telegraf dan jalur kereta yang
disebut Ghan Train. Fase selanjutnya, banyak berdatangan imigran dari
negaranegara Eropa dan Timur Tengah. Imigran dari negara Eropa memang tidak
signifikan bagi perkembangan komunitas Muslim di Australia. Namun demikian,
kedatangan imigran dari negara-negara Arab dan Timur Tengah sangat signifikan
dalam sejarah perkembangan Islam di Australia.
Pesatnya perkembangan komunitas
Islam di Australia pada gilirannya tidak lagi dianggap sebagai faktor yang
turut menggerakkan perekonomian di Australia, tetapi kemudian dilihat sebagai
bagian yang “membahayakan” kelangsungan hidup komunitas kulit putih di
Australia yang
didominasi
budaya Anglo-Saxon. Sebagai akibatnya, hal ini memunculkan kebijakan yang
membatasi perkembangan komunitas Muslim dengan dikeluarkannya kebijakan White
Australia Policy pada 1901 M.
Hubungan antar masyarakat mengalami
pasang surut, tergantung pada isu-isu yang mewarnai perkembangannya. Hubungan
antarmasyarakat pada dasarnya terjalin dengan baik. Selama ini, pemerintah
Australia dan masyarakat Australia menghormati pelaksanaan asas multikultur Australia.
Namun demikian, hubungan memburuk manakala ada isu internasional yang merupakan
generalisasi berlebihan atas suatu persoalan, atau stigma atas kelompok Muslim
Australia yang kemungkinan dipengaruhi oleh opini-opini yang dibangun media
massa. Pemberitaan di media Autralia yang banyak menyoroti tindakan para
ektrimis yang sama sekali tidak terafiliasi dengan agama Islam sedikit banyak
mempengaruhi persepsi masyarakat. Padahal Islam yang benar dan hidup di
Australia dalah Islam yang damai dan bisa berdampingan dengan masyarakat
sekitar. Stigma kedekatan Islam dengan terorisme, Arab, dan lain-lain yang
menyudutkan umat Islam di Australia, pada beberapa peristiwa telah memunculkan
tindakan diskriminatif bahkan kekerasan, seperti ketika dilakukan sweeping pada
komunitas Muslim Australia pasca peledakan Bom WTC dan Bom Bali. [2]
Islamphobia di Australia sangat erat kaitannya dengan kolonialisme dan
neokolonialisme. Berbagai kebijakan yan tengah dilakukan oleh pemerintah
Australia adalah kebijakan fasisme bentuk baru dan menempatkan islam sebagai musuh
pandangan nasionalis. Pandangan yang digencarkan adalah ketakutan dan
kebencian. Islamdigambarkan secara kelru dan muslim mulai dilihat sebagai
orang-orang kolot dan bahkan tidak pantas disebut sebgai manusia karena tidak
terhubung dengan dunia barat. Isu mengenai islam phobia menguntungkan bagi pihak berkepentingan
di bidang politik maupun bidang media.
Persepsi
tentang Islam: Islamphobia
Australia
dan Cara mengatasinya
Istilah Islamphobia muncul karena
ada fenomena baru yang membutuhkan penamaan. Prasangka anti muslim berkembang
begitu cepat pada beberapa tahun terakhir ini, sehingga membutuhkan kosa kata
baru untuk mengidentifikasikan. Penggunan istilah baru yaitu Islamphobia tidak
akan menimbulkan konflik namun dipercaya akan lebih memainkan peranan daam
usaha untuk mengoreksi persepsi dan membangun hubungan yang lebih baik (Young
European Muslims, 2002). Islam phobia memiliki beberapa karakteristik. Untuk memahami karakteristik ini dalam laporan
Runnymede menjelaskan sebuah kunci untuk memahami perbedaan tersebut yaitu
pandangan yang terbuka dan pandangan yang tertutup terhadap Islam. Phobia atau
ketakutan terhadap Islam merupakan karakteristik dari pandangan yang tertutup
terhadap Islam, sementara ketidak setujuan yang logis dan kritik serta
apresiasi maupun pemnghormatan merpuakan pandangan yang terbuka terhadap Islam.[3]
Hubungan memburuk manakala ada isu
internasional yang merupakan generalisasi berlebihan atas suatu persoalan, atau
stigma atas kelompok Muslim Australia yang kemungkinan dipengaruhi oleh
opini-opini yang dibangun media massa. Pemberitaan di media Autralia yang
banyak menyoroti tindakan para ektrimis yang sama sekali tidak terafiliasi
dengan agama Islam sedikit banyak mempengaruhi persepsi masyarakat. Padahal
Islam yang benar dan hidup di Australia adalah Islam yang damai dan bisa
berdampingan dengan masyarakat sekitar. [4]
Faktor-faktor
pembentuk opini tentang Islamphobia
A. Aktivitas
terorisme
Munculnya ISIS yang memproklamirkan diri
sebagai negara islam irak dan suriah ketika terjadi Arab Spring yang merembet
kepada kerusuhan suriah. Warga masyarakat Australia mengalami ketakutan dengan
alasan karena irvine mengatakan bahwa ada sekitar 60-70 warga Australia yang
ikut bertempur ke medan perang di Irak dan Suriah bersama kelompok ekstrimis.
Pada tanggal 21 September 2014 ISIS mengeluarkan sebuah klip audio berdurasi 4
menit yang isiya adalah memanggil kepada saudara-audara perjuangan yang ada di
Australia untuk menyerang warga non muslim yang ada di Australia. Kemudian pada
23 September 2014 terjadi peristiwa penusukan 2 nggota kepolisian dan
tersangkanya adalah remaja yang bernamma noman haidar seorang keurunan
afganistan yang kemudian di tembak mati oleh salah satu polisi korban
penusukan. Setelah dilakukan penyelidikan elaku membawa dua pisau, satu pisau
berada di tubuh pelaku dan satu pisau di gunakan untuk menyerang serta satu
bendera ISIS. Pihak kepoisian setempat menyatakan belum bisa memastikan jika
pelaku adalah salah satu dari angta ISIS meskipun pada kenyataannya di dalam
tubuh pelaku terdapat bendera ISIS. Kemudian pada 15-16 desember 2015 terjadi
penyanderaan di Cafe Coklat Lindt yang terletak di Martin place, Sidney. Yaitu
pelaku bernama man haron monis. Pelaku menyatakan bahwa pelaku bukan salah satu
anggota dari ISIS tapi pelaku ingin merupakan bagian dari ISIS pelaku
menyandera 10 pengunjung dan 8 pegawai yang berlangsung selama 16 jam. Dengan
hasil pelkau tertembak mati, dua tewas dalam proses penyelamatan.
B. Masyarakat
dan Media Australia
Baik negara maupun media cenderung
memelihara narasi bahwa islam adalah sumber dari teror. sedikit banyak mereka
percaya akan narasi itu karena bentuk kekerasan seperti ISIS atau pengeboman
dan lain-lain itu masih ada. Selama organisasi teror yang menggunakan identitas
islam masih ada maka islampobia akan tetap dialami oleh masyarakat di jumlah
negara, seperti contoh teror yang ada di selandia baru bisa dipakai alat
propaganda kelompok teror beridentitas islam. Kebencian islam semakin
terpelihara sejak membesarnya arus grobalisasi yang didukung oleh perkembangan
teknologi. Karena masyarakat lebih merasa aman dan nyaman dengan orang yang
seidentitas dengan mereka, berkulit sama dan berasal dari satu negara yang
sama. Sebaliknya mereka cenderung mulai menyalahkan kelompok yang asing. Sikap
negatif bisa berbeda-beda ditunjukkan oleh masyarakat mulai dari keengganan
memiliki tetangga muslim, tidak percaya dengan temannya yang muslim, hingga
tidak mau berteman dengan penganut negara islam.[5]
Strategi Menghadapi Islampobia
1. Meluruskan
Citra Islam
Islamophobia
ini menjadi salah satu isu yang mendasari Deakin University di Victoria untuk
mengadakan dialog lintas agama. Akhirnya, 6 tahun yang lalu lahirlah gagasan
mengadakan buka puasa bersama dengan peserta lintas agama, tujuannya satu, agar
terjadi dialog antar tokoh agama dan memberikan pengetahuan utuh tentang Islam
yang damai.
Menurut Jane, sebenarnya banyak orang yang
ingin lebih mengetahui tentang Islam. Namun, masyarakat tidak punya kesempatan
untuk saling berdialog dan saling berbagi informasi. Justru yang ada adalah
informasi-informasi miring tentang Islam yang semakin menjauhkan masyarakat
Australia untuk mengenal citra Islam yang sebenarnya.
Senada dengan Jane, Director Alfred Deakin
Institute for Citizenship and Globalisation, Profesor Fethi Mansouri
mengungkapkan bahwa banyak pemahaman yang salah tentang Islam. Maka dari itu,
dialog sangat diperlukan untuk meluruskan citra Islam sebagai agama pembawa
kedamaian.[6]
2. Kampanye
Damai
Komunitas
Muslim Australia, Muslim Down Under, melakukan kampanye unik untuk memerangi
Islamophobia. Mereka menawarkan masyarakat untuk mengobrol santai bersama
Muslim sambil menyantap kue dan kopi. Komunitas yang menaungi Muslim di seluruh
Australia ini bersedia menjawab semua pertanyaan yang diajukan masyarakat luas.
Masyarakat bisa mengikuti kampanye ini dengan mendaftar melalui situs resmi.
kampanye tersebut dirancang untuk mengatasi kesalahan informasi tentang Islam.
Kampanye juga dilakukan untuk memerangi ekstremisme yang mengatasnamakan Islam.[7]
3. The Resilient Women bersama Uniting Chruch.
Uniting
Church adalah aliran Kristen terbesar ketiga di Australia, yang menggabungkan
Gereja Metodis, Presbiterian, dan Kongregasional. Menurutnya, tujuan dari
proyek ini adalah untuk meningkatkan kepedulian dan merancang strategi untuk
mengatasi masalah kekerasan terhadap Muslimah akibat Islamophobia yang
meningkat. Salah satu kegiatan dari proyek ini adalah membuat sebuah forum,
dimana para perempuan dari berbagai latar belakang dan komunitas, termasuk
Muslimah, untuk berbicara soal masalah yang mereka hadapi. Forum ini
mendapatkan bantuan dana dari pemerintah negara bagian Victoria dan sejumlah
organisasi komunitas.[8]
DAFTAR PUSTAKA
ABC.
2017. Gereja Australia Coba Bantu Muslimah Dari Islamophobia.
https://www.tempo.co/abc/290/gereja-australia-coba-bantu-muslimah-dari-islamophobia.
Diakses pada 1 Desember 2019 15.31.
Indriani
Kartini. Resume. Minoritas Muslim di Australia dan Inggris.
Ikhwanul
Khabibi. 2016. Meluruskan Citra Islam untuk Hilangkan Islamophobia di
Australia.
https://news.detik.com/internasional/d-3231856/meluruskan-citra-islam-untuk-hilangkan-islamophobia-di-australia.
Jelajah Australia 2016. detikNews . Diakses pada 1 Desember 2019 14.00.
Lalu
Lahardian. 2019. Apa dan Mengapa Islampobia Harus dilawan.
https://kabar24.bisnis.com/read/20190320/79/902209/apa-dan-mengapa-islamophobia-harus-dilawan.
Diakses pada 1 Desember 2019 14.20.
Moordiningsih.
2004. ISLAMOPHOBIA DAN STRATEGI MENGATASINYA. ISSN : 0854 – 7108 Buletin Psikologi,
Tahun XII, No. 2, Desember 2004.
Rep:
Fira Nursya'bani/ Red: Agus Yulianto. 2017. Muslim Australia Lakukan Kampanye
Perangi Islamofobia.. https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/07/18/ot9xtk-muslim-australia-lakukan-kampanye-perangi-islamofobia.
Diakses pada 1 Desember 2019 15.00.
[1]
Septiana
Nuradilah ( 53010180076 ), Arif Dili Nurhakim (53010180091),
Lutfiana Candra(
53010180105), Mahasiswa SPI Angkatan 2018 IAIN Salatiga
[3]Moordiningsih. 2004. ISLAMOPHOBIA DAN
STRATEGI MENGATASINYA. ISSN : 0854 – 7108 Buletin Psikologi, Tahun XII, No. 2,
Desember 2004. hlm 74
[4] Op.cit. Indriani Kartini. Hlm 92.
[5] Lalu Lahardian. 2019. Apa dan Mengapa Islampobia Harus dilawan. https://kabar24.bisnis.com/read/20190320/79/902209/apa-dan-mengapa-islamophobia-harus-dilawan. Diakses pada 1 Desember 2019
14.20.
[6]Ikhwanul Khabibi. 2016. Meluruskan Citra Islam untuk
Hilangkan Islamophobia di Australia. https://news.detik.com/internasional/d-3231856/meluruskan-citra-islam-untuk-hilangkan-islamophobia-di-australia. Jelajah Australia 2016. detikNews . Diakses pada 1
Desember 2019 14.00.
[7]Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Agus
Yulianto. 2017. Muslim Australia Lakukan Kampanye Perangi Islamofobia. https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/07/18/ot9xtk-muslim-australia-lakukan-kampanye-perangi-islamofobia.
Diakses pada 1 Desember 2019 15.00.
[8] ABC.
2017. Gereja Australia
Coba Bantu Muslimah Dari Islamophobia. https://www.tempo.co/abc/290/gereja-australia-coba-bantu-muslimah-dari-islamophobia.
Diakses pada 1 Desember 2019 15.31.
Komentar
Posting Komentar