MEMBANGUN KESADARAN MULTIKULTURALISME MELALUI KEGIATAN KEMAHASISWAAN SEBAGAI WUJUD MODERASI ISLAM
BAGI MAHASISWA IAIN SALATIGA

Oleh :
Lutfiana Candra dan Septiana Nurfadilah[1]

Negara Indonesia merupakan salah satu negara multikultur terbesar di dunia. Hal ini dapat terlihat dari kondisi sosial kultural maupun geografis Indonesia yang begitu kompleks, beragam, dan luas. Kemajemukan masyarakat Indonesia dapat dilihat, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Maka, Indonesia memiliki potensi kekayaan multietnis, multikultur, dan multiagama yang kesemuanya merupakan potensi untuk membangun multikultural nationstate. Namun, di sisi lain kemajemukan ini sangat rawan memicu konflik dan perpecahan.
Menurut KBBI multikulturalisme adalah gejala pada seseorang atau masyarakat yang ditandai oleh kebiasaan menggunakan lebih dari satu kebudayaan. Kesadaran multikulturalisme perlu dibangun kepada mahasiswa. Sebab, mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang perlu dibekali dengan kesadaran akan perbedaan. Pentingnya kesadaran multikulturalisme meliputi, pertama, dapat menumbuhkan solidaritas kebangsaan dengan  basis pengakuan terhadap keanekaragaman agama, suku, dan budaya. Kedua, dapat menumbuhkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan sebab memberikan ruang kepada setiap individu untuk mengapresiasikan pandangan dan keyakinannya. Ketiga, dapat menjadi kekuatan kultural yang berfungsi untuk mengantisipasi konflik sektarian. Sebab, setiap konflik bersumber dari kecurigaan dan kebencian, maka multikulturalisme berperan untuk membangun kesadaran pentingnya menghargai kelompok lain sebagai potensi, bukan ancaman.
Kesadaran terhadap multikulturalisme diperlukan karena terjadi banyak kasus radikalisme berlatar belakang perbedaan etnis, budaya, agama, dan paham keagamaan.  Misalnya, berita CNN Indonesia terhadap konflik pembangunan Masjid Al-Aqsa Sentani di Jayapura, Papua. Konflik ini karena tinggi masjid tersebut melebihi tinggi gereja yang sudah banyak berdiri di Sentani. Selain itu, dilansir dari Tribun, penyerangan terhadap ulama yang menimpa Kyai Abdul Hakam Mubarok pada Ahad 19 Februari 2018 di Lamongan. Umumnya radikalisme itu disebabkan ketidaksiapan individu atau kelompok untuk hidup dalam lingkungan yang plural. Maka, membangun kesadaran multikulturalisme harus dihidupkan di lingkungan mahasiswa karena kondisi psikologi dan emosionalnya belum matang dengan bukti banyak mahasiswa yang mudah terpancing dari berbagai isu yang belum tentu kebenarannya dan mahasiswa juga mudah diadu domba dalam perpecahan. Maka, kesadaran multikulturalisme penting bagi mahasiwa melalui kegiatan mahasiswa yang ada di kampus sehingga praktik intoleransi yang terus muncul hingga tingkat global dapat diatasi.
Keadaan keagamaan masyarakat IAIN Salatiga dewasa ini terpacu pada pendikotomian golongan keagamaan sehingga muncul sikap ekslusifisme. Ini disebabkan kurangnya pemahaman inti dari sebuah agama sehingga menimbulkan intoleran terhadap perbedaan yang ada. Melihat kondisi mahasiswa IAIN Salatiga yang beragam dengan perbedaan pemahaman, perbedaan suku, maka diperlukan adanya kesadaran multikulturalisme yang diimplementasikan melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan. Pertama, Senat mahasiswa adalah lembaga dalam struktur organisasi kemahasiswaan yang memegang fungsi kontrol terhadap pelaksanaan Garis Besar Haluan Program (GBHP) lembaga kemahasiswaan PTKI. Lembaga ini berfungsi menampung dan menyalurkan  aspirasi mahasiswa, dan memiliki peran legislasi sebagai subsistem kelembagaan non-struktural di tingkat PTKI. Kedua, Dewan Mahasiswa adalah organisasi kemahasiswaan yang berkedudukan sebagai lembaga tinggi tingkat organisasi kemahasiswaan IAIN Salatiga yang berfungsi sebagai pusat kegiatan kemahasiswaan baik di internal maupun eksternal kampus.
Bentuk-bentuk kesadaran multikulturalisme dalam kegiatan mahasiswa tertuang dalam berbagai unit kegiatan mahasiswa yang mampu menyadarkan adanya keberagaman sebagai sebuah potensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Pertama, Lembaga Pers Mahasiswa Dinamika (LPMD) sebagai wadah menumbuhkembangkan minat dan bakat mahasiswa di bidang pers mahasiswa, menumbuhkan rasa solidaritas antara pers mahasiswa dan menumbuhkan kepedulian terhadap realitas masyarakat kampus maupun masyarakat lokal. Implementasi kesadaran multikulturalisme terlihat dari anggota Lembaga Pers Mahasiswa Dinamika adalah ketika mereka melakukan pencarian data dan harus terjun di lapangan. Dalam memperoleh data mereka melakukan wawancara baik dari dosen maupun mahasiwa. Kegiatan ini menumbuhkan pentingnya sikap saling menghormati dan menghargai terhadap perbedaan, mereka harus bisa menerima perbedaan sebagai potensi kemajuan.
Kedua, Ittaqo merupakan wahana pengembangan mahasiswa yang bergerak dalam bidang kebahasaan khususnya bahasa arab. Implementasi kesadaran multikulturalisme adalah anggota dari organisasi ini tidak hanya mahasiswa jurusan bahasa arab saja, tetapi terbuka bagi seluruh mahasiswa yang akan berlajar dan mengembangkan bidang kebahasaan arab. Ini menunjukkan bahwa sikap ekslusivisme dan entolerasi tidak ada, maka dengan kegiatan ini dapat membangun kesadaran berbineka tunggal ika.
Ketiga, Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffadz  (JQH) Al-Furqon. JQH merupakan lembaga khusus dari IAIN Salatiga yang bergerak di bidang ilmu dan seni baca tulis al-quran yang dilatarbelakangi karena melihat keprihatinan mahasiswa IAIN Salatiga yang belum memiliki wadah dalam menumbuhkembangkan bakatnya dalam bidang al-quran. Dalam JQH terdapat berbagai divisi yang meliputi divisi tilawah, tahfidz, dan rebana. Implementasi kesadaran multikulturalisme ini terlihat dari tampilnya mereka di berbagai acara institusi. Penampilan mereka merupakan perpaduan dari berbagai divisi sehingga diperlukan kekompakan, saling menghormati dalam berbagai perbedaan. Bentuk lain kesadaran multikulturalisme adalah bagi mahasiswa yang masuk divisi rebana mereka harus mempelajari khasanah kebudayaan Jawa meskipun mereka tidak berasal dari Jawa.
Keempat, Racana sebagai unit kegiatan mahasiswa di bidang kepramukaan yang benama Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi dengan gugus depan XI-32 02.237 – 02.238. Implementasi kesadaran multikulturalisme tercermin dalam kegiatan Bina Diri, Bina Satuan dan Bina Masyarakat. Kesadaran multikulturalisme kegiatan bina diri terlihat dari belajar bersama, seperti kepramukaan, kursus komputer, internet, ketrampilan karya tangan, dan keputrian. Kesadaran multikulturalisme kegiatan Bina Satuan tercermin dari bentuk pelatihan kepada gugus depan SD, SMP, SLTA. Kegiatan ini merupakan cermin dari kesadaran multikulturalisme karena mereka harus menghargai perbedaan, tidak membeda-bedakan siapa saja yang ada di masyarakat. Bentuk implementasi kesadaran multikulturalisme dari bina masyarakat yaitu mereka sebagai tenaga pengajar ke tempat pengajian anak dan  memiliki desa binaan untuk memberikan pembinaan bidang rohani setiap minggu dan pada bulan Ramadhan selama beberapa hari secara menetap.
Kelima, Mapala Mitapasa sebagai organisasi pecinta alam yang konsentrasi pada konservasi lingkungan hidup. Implementasi dari kesadaran multikulturalisme adalah bentuk  tanggung jawab sebagai manusia untuk menjaga keutuhan bumi dari orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Bentuk tanggung jawab itu tercermin dari panjat tebing, penjelajahan hutan, pendakian gunung, penulusuran gua, arum jeram dan konservasi lingkungan. Hasil dari kesadaran multikulrutalisme ini menciptakan penelitian lingkungan, penghijauan, pelestarian alam, dan pengelompokan flora dan fauna.
Kesadaran multikulturalisme dapat ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan. Pertama, kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Kegiatan ini diselenggarakan setiap awal tahun ajaran bagi mahasiwa baru yang telah melewati tahap wawancara, tes diagnostik, dan lain-lain. PBAK tahun 2018 melalui kegiatan belanja di pasar tradisional dan diberikan materi pencegahan radikalisme dan terorisme. Menurut koordinator humas panitia pelaksana Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Salataiga Syaifuddin Zufri bahwa kegiatan ini diharapkan para mahasiswa baru dari berbagai daerah mampu berinteraksi sebagai warga baru dilingkungan kampus, para mahasiswa perlu dibekali dengan kemampuan mengenali gejala-gejala radikal dan teror agar dalam perjalanan akademisnya mereka tidak mudah terpengaruh dengan gerakan radikal. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan mahasiswa baru mampu beradaptasi dengan masyarakat yang ada dilingkungan kampus serta mampu mewujudkan visi dan misi IAIN Salatiga. Hal ini merupakan implementasi dari kesadaran multikulturalisme yang diberikan dari IAIN Salatiga.
Kedua, kegiatan malam keakraban (makrab) wajib diikuti oleh setiap mahasiswa baru dari setiap jurusan yang diadakan setiap awal semester ganjil. Kegiatan ini sebagai implementasi kesadaran multikulturalisme yang dilihat dari setiap kegiatan dengan menitikberatkan pada kegiatan kelompok sehingga dapat mempererat tali persaudaraan, menghargai perbedaan, kerja sama, mengenali lingkungan kampus sehingga tercipta keharmonisan dan mampu mewujudkan visi dan misi kampus IAIN Salatiga.
Ketiga, Lingkar Pena Sejarah yang didirikan karena munculnya permasalahan antar mahasiswa yang mempunyai sikap kefanatikan atau merasa diri paling benar karena mereka mudah terprovokasi sehingga kegiatan ini cocok sebagai implementasi kesadaran multikulturalisme. Bentuk dari kesadaran multikulturalisme adalah anggota dari kegiatan ini dari berbagai jurusan. Keempat, Seminar Internasional bertema Literatur Nusantara (SILiN). Bentuk-bentuk kesadaran multikulturalisme pada kegiatan ini meliputi pertama, kerja sama antara IAIN Salatiga bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, Persatuan Penulis Budiman Malaysia dan Forum Lingkar Pena (FLP) Salatiga. Kedua, tema-tema yang diusung merupakan tema kesadaran multikulturalisme yang meliputi religion, state and counter terorism;  literature, literature critics and comparative discourse; lokalitas dan kontekstualitas sastra dan budaya; dan education, literature and language studies.
            Dengan demikian kesadaran multikulturalisme terimplementasi dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti makrab, LPS, seminar dan PBAK. Sedangkan, organisasi kemahasiswaaan meliputi SEMA, DEMA, HMJ, ITATAQO, dan JQH. Kegiatan dan organisasi kemahasiswaan begitu penting dalam membangun kesadaran multikulturalisme karena  pertama, dapat menumbuhkan solidaritas kebangsaan dengan  basis pengakuan terhadap keanekaragaman agama, suku, dan budaya. Kedua, dapat menumbuhkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan sebab memberikan ruang kepada setiap individu untuk mengapresiasikan pandangan dan keyakinannya. Ketiga, dapat menjadi kekuatan kultural yang berfungsi untuk mengantisipasi konflik sektarian. Maka, jika kesadaran multikulturalisme dikembangkan di setiap kampus maka dapat menghilangkan konflik sehingga Indonesia sebagai negara berbhineka tuggal ika dapat terwujud.



Daftar Pustaka
            Hifni, Ahmad. Membangun Kesadaran Multikultural, diunduh pada 16 November 2018, dari https://www.qureta.com/post/membangun-kesadaran-multikultural.
Khoironi, Muhammad. 2018. PBAK Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan. Salatiga. Panitia PBAK IAIN Salatiga 2018.
Nugroho, Sakti, Fachri. Pria Penyerang Kiai di Lamongan Mengaku Disuruh Orang, Begini Pengakuannya!, diunduh pada 16 November 2018, dari http://wow.tribunnews.com/2018/02/19/pria-penyerang-kiai-di-lamongan-mengaku-disuruh-orang-begini-pengakuannya.
Sutari, Tiara. Menag: Selesaikan Konflik Masjid di Papua Lewat Musyawarah, diunduh pada 16 November 2018, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180318101351-20-283902/menag-selesaikan-konflik-masjid-di-papua-lewat-musyawarah.
.







[1] Mahasiswa aktif IAIN Salatiga

Komentar

Postingan Populer